Riwayat Kartini
Kartini merupakan keturunan ningrat. Sebelumnya ayahnya hanya seorang wedana di Mayong. Ibunya hanya keturunan seorang guru agama di Jepara. Peraturan Kolonial saat itu mengharuskan seorang bupati untuk beristrikan bangsawan. Karena itu, ayah Kartini pun menikah lagi dengan seorang perempuan keturunan Raja Madura. Dan diangkatlah ayah Kartini menjadi seorang bupati.
Kartini bersekolah di Europese Lagere School hingga umur 12 tahun. Berikutnya ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena peraturan Jawa yang mengharuskan perempuan dipingit untuk dinikahkan dengan laki-laki yang tidak dikenal.
Pada masa itu, selain tidak dapat bersekolah. Perempuan juga harus rela dimadu oleh laki-laki. Menyedihkan..
Walau sudah tidak dapat bersekolah, Kartini yang cerdas tetap membaca bermacam karya sastra dan menulis surat kepada sahabat penanya di Belanda.
Kartini menikah di umur 23 tahun dengan seorang bupati Rembang yang sudah pernah memiliki tiga istri. Berkat kebaikan suaminya, Kartini diperbolehkan membangun sekolah wanita di kompleks kantor kabupaten Rembang.
Setahun setelah mempunyai seorang anak, Kartini meninggal dunia di usianya yang baru menginjak 25 tahun.
Sekolah yang ia bangun pun kemudian dikembangkan dan dilanjutkan dengan nama Yayasan Kartini.